Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dholalah ????

Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh,
Saya ingin bertanya mengenai bid’ah, betulkah bid’ah tersebut dibagi menjadi 2, hasanah dan dlolalah, apakah yang menjadi dalil dari pembagian bid’ah tersebut karena setahu saya dalam hadits Rosululloh SAW menyatakan dengan sangat jelas bahwa setiap bid’ah adalah dlolalah (sesat). Jazakumulloh khoiron katsiro..
rian-cilandak


Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

1. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa
Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Dan kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu yang menjadi tambahan dari agama ini setelah disempurnakan.

2. Pengertian Bid’ah Secara Istilah dan Perbedaan Pandangan
Secara istilah, bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui), sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat.

Kelompok Pertama
Mereka yang meluaskan batasan bid’ah itu mengatakan bahwa bid’ah adalah segala yang baru diada-adakan yang tidak ada dalam kitab dan sunnah. Baik dalam perkara ibadah ataupun adat. Baik pada masalah yang baik atau yang buruk.

a. Tokoh
Diantara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Al-’Izz ibn Abdis Salam, An-Nawawi, Abu Syaamah. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Dari kalangan m1 seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanabilah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri.

Bisa kita nukil pendapat Al-Izz bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa bid`ah perbuatan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, yang terbagi menjadi lima hukum. Yaitu bid’ah wajib, bid’ah haram, bid’ah mandub (sunnah), bid’ah makruh dan bid’ah mubah.

b. Contoh
Contoh bid’ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk memahami kitabullah dan sunnah rasulnya. Contoh bid’ah haram misalnya pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah, Murjiah dan Khawarij. Contoh bid’ah mandub (sunnah) misalnya mendirikan madrasah, membangun jembatan dan juga shalat tarawih berjamaah di satu masjid. Contoh bid’ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran. Sedangkan contoh bid’ah mubah misalnya bersalaman setelah shalat.

c. Dalil
Pendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi lima kategori hukum didasarkan kepada dalil-dalil berikut :

Perkataan Umar bin Al-Khattab ra tentang shalat tarawih berjamaah di masjid bulan Ramadhan yaitu :
Sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.
Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik.
Hadits-hadits yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah seperti hadits berikut :
Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan), maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat.

Kelompok Kedua
Kalangan lain dari ulama mendefinisikan bahwa yang disebut bid’ah itu semuanya adalah sesat, baik yang dalam ibadah maupun adat.

Diantara mereka ada yang mendifiniskan bid’ah itu sebagai sebuah jalan (tariqah) dalam agama yang baru atau tidak ada sebelumnya (mukhtara’ah) yang bersifat syar`i dan diniatkan sebagai tariqah syar’iyah.

a. Tokoh
Diantara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy, Asy-Syathibi, Imam Asy-Syumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Juga ada Al-Baihaqi, Ibnu Hajar Al-`Asqallany serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi’iyah. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taymiyah.

b. Contoh
Contohnya adalah orang yang bernazar untuk puasa sambil berdiri di bawah sinar matahari atau tidak memakan jenis makanan tertentu yang halal tanpa sebab yang jelas (seperti vegetarian dan sebangsanya).

c. Dalil
Dalil yang mereka gunakan adalah :

Bahwa Allah SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Allah SWT :
… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…(QS. Al-Maidah : 3)

Juga ayat berikut :
dan bahwa adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al-An`am : 153)

Setiap ada hadits Rasulullah SAW yang berbicara tentang bid’ah, maka selalu konotasinya adalah keburukan. Misalnya hadits berikut :
…bahwa segala yang baru itu bid’ah dan semua bid’ah itu adalah sesat.

Selain pembagian di atas maka sebagian ulama juga ada yang membuat klasifikasi yang sedikit berbeda, oleh para ulama bid’ah terbagi dua;

a. Bidah dalam adat kebiasaan (di luar masalah agama) seperti banyaknya penemuan-penemuan baru di bidang tekhnologi, hal tersebut dibolehkan karena asal dalam adat adalah kebolehan (al-ibahah)

b. Bid’ah dalam agama, mengada-ngada hal yang baru dalam agama. Hukumnya haram, karena asal dalam beragama adalah at-tauqief (menunggu dalil). Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak” (HR Muslim 1817)

Namun dalam kaitannya dengan bid’ah dalam agama, para ulama ternyata juga masih memilah lagi menjadi dua bagian :

Pertama : Bid’ah perkataan yang berkaitan dengan masalah I’tiqod, seperti perkataan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhoh dan sekte-sekte sesat lainnya. Misalnya pendapat Mu’tazilah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Alloh dan bukan firman-Nya.

Kedua: Bid’ah dalam beribadah, seperti melaksanakan suatu ritual ibadah yang tidak ada dalil syar’inya. Bid’ah dalam ibadah ini terbagai beberapa macam:

a. Bid’ah yang terjadi pada asal ibadah, dengan cara mengadakan suatu ritual ibadah baru yang tidak pernah disyariatkan sebelumnya, contohnya adalah melaksanakan shaum dengan tujuan agar dapat menguasai ilmu-ilmu tertentu

b. Bid’ah dalam hal menambah Ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat sholat shubuh menjadi tiga.

c. Bid’ah dalam bentuk pelaksanaan ibadah yang diwujudkan dengan melaksanakannya diluar aturan yang disyariatkan, contohnya melaksanakan dzikir sambil melakukan gerakan-gerakan tertentu.

d. Bid’ah dengan mengkhususkan waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah masyru’. Seperti mengkhususkan pertengahan bulan Sya’ban dengan shaum dan sholat. Karena shaum dan sholat pada asalnya disyari’atkan akan tetapi pengkhususan pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut di waktu-waktu tertentu haruslah berdasarkan nash (dalil-dali) dari Alloh dan rasul-Nya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

sumber : Syariah Online

Pusat Konsultasi Syariah

Satu Tanggapan

  1. “Kullu” dalam sabda Nabi tsb ada pengkhususannya. Jika semua itu diartikan umum, maka semua kegiatan pembukuan Al-Qur`an adalah bid’ah. Adzan dua kali pada shalat Jum’at yg dilakukan Sayyidina Utsman adalah bid’ah. Membuka sandal di luar Masjid adalah bid’ah.

    Siapa yang sanna suatu SUNNAH yang baik di dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala sesiapa yang beramal dengan (SUNNAH) nya selepas (kematian) nya. Tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya sedikitpun. (Sebaliknya) siapa yang sanna satu SUNNAH yang buruk, adalah dosa atasnya dan dosa mereka yang beramal dengan (SUNNAH BURUK) nya selepas (kematian) nya, tidak berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka yang akan ditanggungnya). [HR. Muslim dari Jabir]

    Sanna Sunnatan dapat berarti merintis suatu kebiasaan, membiasakan suatu kebiasaan baru, membuat suatu kebiasaan baru. Jadi, sunnah di sini bukanlah salah satu hukum dalam fiqih, tetapi kebiasaan, jalan. Seperti dalam hadits Rasul, “Kalian akan mengikuti sunnah/kebiasaan/jalan ummat terdahulu…”

    Dalam hadits-hadits di atas kita melihat dua perkara yang berlawanan. Di satu sisi ada Kitab Allah, petunjuk Muhammad, Sunnah Khulafa ar-Rasyidin, dan sunnatun hasanatun; dan di lain sisi ada bid’ah dan sunnatun sayyi-atun. Jadi, yang ada sekarang adalah istilah sunnatun hasanatun dan sunnatun sayyi-atun. Sunnatun hasanatun merupakan kebiasaan yang baik, yaitu kebiasaan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Nabi, dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin. Sedangkan sunnatun sayyi-atun merupakan kebiasaan yang buruk, yaitu kebiasaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Nabi, atau sunnah Khulafa-ur Rasyidin. Artinya, selama kebiasaan itu baik dan tidak ada larangan dari syara’ dan tidak pula mengubah syara’ dan tidak pula menyalahi syara’, maka ia adalah sunnatun hasanatun.

    Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ihsaan,. (An-nahl: 90)

    Ayat ini menunjukkan bahwa segala yg ihsan itu tidak lagi membutuhkan dalil untuk dikerjakan, karena cukuplah ayat ini sebagai dalil. Karena ayat ini menyuruh kita untuk berbuat ihsan. Maka segala yg ihsan itu berdasar kepada ayat ini.

    Mengapa Sayyidina Umar mengusulkan pengumpulan dan pemush-hafan Al-Qur`an? Karena beliau melihat bahwa perbuatan itu ihsan. Jadi, ihsan tersebut hanyalah pandangan Sayyidina Uamr dan kemudian Abu Bakar pada mulanya.

    Nah, jika para ulama shalih memandang bahwa dalam kebiasaan2 (sunnah2) yg baru itu terdapat ihsan, maka kebiasaan yg ihsan itu boleh dikerjakan, karena Allah memerintahkan kita untuk berbuat ihsan, dan tidak melarangnya.

Tinggalkan Balasan