Ka’bah I’m In love …

Ya ALLAH izinkan hamba-Mu yang dho’if ini datang berharap,hanya kepada-Mu.

Yaa ALLAH,dari dulu,dan hingga kini,tiada putus kami memohon.

Dengan dada bergemuruh karena hati yang bergetar.

Dan lisan yang terbata-bata,mengeja do’a.

Yaa ALLAH Karuniakanlah kepada kami pada tahun ini,kesempatan untuk berhaji ke Rumah-Mu yang suci.

Berikan kepada kami kemudahan,kesehatan dan kelapangan rizki.

yaa Allah izinkanlah hamba ini menjenguk tempat-tempat yang mulia.

berikanlah kepada kami berziarah ke kuburan NAbi-Mu,Muhammad SAW ,uswah kami.

Yaa ALLAH,jadikanlah dalam ketapan-MU yang tak bisa diubah atau diganti,bahwa kami termasuk diantara orang-orang yang BERHAJI ke rumah-MU yang suci,yang hajinya mabrur yang sa’inya masykur,yang diampuni dosa-dosanya yang dihapuskan kesalahannya.

Labbaika Allahumma labbaik,Labbaika laa syarika lakalabbaik,Innal hamda wan ni’mata laka,wal mulka laka laa syarika lak
(Yaa Allah ,inilah hambah,hamba datang memenuhi panggilan-Mu.Hamba datang,tiada sekutu bagi-MU,hamba datang.Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah untuk-Mu,dan segala kekuasaan hanyalah ada pada-Mu ,tiada sekut bagi-Mu )

sumber : eqolbu.blog.com

“Duhai Allah, berilah kesempatan pada kami, untuk kembali dan kembali mengunjungi Baitullah”
“dan bila saatnya nanti tiba, Matikanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah”

dalam keadaan mulia di sisi -Mu ya Allah…
bukan dalam keadaan bermaksiat kepada-Mu

5 Tanggapan

  1. betapa saya sangat merindukan tanah suci mekah,setiap kali melihat keajaiban ALLAH saya seperti ditarik oleh magnet dan ingin segera berangkat ke sana dan air mata ini mengalir,Ya ALLAH betapa hamba merindukanmu dan rindu menyusuri jejak kekasihmu,terimakasih informasinya semoga ALLAH membalas kebaikan anda.

  2. emank sih lom prnah ksono
    tpi ako0h yahkind banetd klo ako0h ntr bisa ksanahh

    ammiiiiiinnnnn………

  3. Duh……..
    jd pengen kesana…..

  4. Baitallah.
    Baitallah, atau Rumah Allah, yang berada di Yerusalem, adalah satu dari dua Baitallah di muka bumi. Baitullah yang lain adalah Kabah di Mekah, Saudi Arabia.

    Baitallah yang ada di Yerusalem, seperti Kabah yang dibangun di Mekah, dibangun pertama kali oleh Adam. Kemudian pada masa Nabi Sulaiman Baitallah ini dipugar ulang untuk disempurnakan. Dalam keislaman, Baitallah yang ada di Yerusalem ini disebut dengan Baitul Aqsa, yang berarti Rumah Jauh, atau Masjidil Aqsa, Mesjid Jauh.

    Kronologis Singkat.
    Pertama kali Adam jatuh ke muka bumi, Adam merasa sedih karena berpisah dari Tuhan. Kemudian Allah mengajarkan bahwa ketika di surga jika Adam ingin bertemu dengan Tuhan maka ia biasanya mengitari suatu bangunan berbentuk kubus. Maka Tuhan berkata jika Adam ingin bertemu kembali dengan Tuhan di muka bumi itu maka Adam pun harus membangun bangunan yang serupa. Maka Adam pun membangun bangunan tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Kabah.

    Namun ketika Kabah itu selesai dibangun, dan Adam mulai mengitari Kabah itu tujuh kali (thawaf, seperti ketika dalam surga), Tuhan tidak juga menampakkan diriNya untuk Adam. Tuhan berkata bahwa biar bagaimana pun Adam tidak akan dapat bertemu dengan Tuhan lagi karena tempat Adam hidup sekarang adalah Dunia, tempat yang ditakdirkan penuh dengan dosa. Sedih, Adam segera berikrar bahwa ia akan menghabiskan waktunya di Dunia dengan menangis saja. Menangis, dalam bahasa Arab adalah “bakkah”. Kelak dari kata bakkah ini akan turun kata “Makkah”, tempat Kabah itu berdiri.

    Namun Tuhan tidak setuju. Tuhan memerintahkan Adam untuk meninggalkan Kabah itu menuju suatu tempat (kelak tempat ini dikenal dengan istilah “The Promised Land”, tanah yang dijanjikan) di mana di tempat itu Adam akan berbahagia walau pun tidak lagi dapat bertemu dengan Tuhan. Adam berkilah, apakah mungkin ada tempat di Dunia ini yang dapat membuat Adam berbahagia tanpa melihat Tuhan, kekasih hatinya? Tuhan menegaskan bahwa Adam tidak boleh merajuk.

    Karena hal itu adalah perintah maka Adam pun segera berjalan meninggalkan Kabah itu, menuju suatu tempat yang Adam sendiri tidak tahu di mana persisnya. Tuhan hanya memerintahkan Adam untuk berjalan kaki saja. Kelak jika sudah sampai di tempat yang dimaksud, Tuhan akan memerintahkan Adam untuk berhenti.

    Ketika Adam sudah sampai di tempat yang dimaksud itu, Tuhan segera berkata, “Berhentilah! Tempat di mana kamu berada sekarang adalah tempat yang Aku janjikan… Tinggallah kamu dan istrimu di Negeri ini….”.

    Adam bertanya, “Tuhan, sudah berapa lama aku berjalan sejak dari Kabah itu?”.
    Tuhan berkata, “sudah 40 tahun kamu berjalan…..”.

    Perintah Tuhan yang pertama untuk Adam setibanya di Negeri itu adalah membangun rumah ibadah yang kedua, setelah Kabah. Rumah ibadah itulah yang sekarang dinamakan dengan Baitallah, atau Masjidil Aqsa. Dan tempat yang dijanjikan itu adalah Yerusalem.

    Dikatakan Aqsa, Terjauh, karena rute Adam berjalan kaki dari Kabah ke Yerusalem tidak lah membentuk satu garis lurus, melainkan berbelok-belok, berputar-putar seperti jalinan benang kusut. Tuhan memang merencanakan hal itu supaya Tuhan memperlihatkan kepada Adam tempat-tempat di mana Tuhan akan menempatkan anak keturunan Adam kelak. Setiap tempat (titik) yang dilewati Adam, akan menjadi tempat terakhir bagi Adam untuk berada di sana. Artinya, satu tempat di muka bumi ini hanya punya “jatah satu kali” untuk dikunjungi oleh Adam, mengingat masih banyak tempat lain yang harus dilewati Adam.

    Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua kota di muka bumi ini sudah dilewati Adam, tanpa kecuali. Apalagi mengingat bumi kala itu masih merupakan satu benua utuh yang dinamakan dengan Pangea, belum seperti pecahan-pecahan benua dan pulau yang banyak bertebaran di atas laut seperti yang terlihat sekarang ini.

    Ketika semua tempat di muka bumi ini telah dilewati, sampailah saatnya Adam di Yerusalem itu di mana Tuhan berkata bahwa Adam telah sampai di tujuan. Berarti setelah Yerusalem tidak ada lagi tempat di muka bumi ini yang belum dikunjungi Adam. Artinya, Yerusalem berada di paling ujung dari perjalanan (pengembaraan) Adam dari Mekah ke Yerusalem. Itulah sebabnya rumah ibadah yang dibangun Adam di Yerusalem dinamakan dengan Masjidil Aqsa yang artinya Rumah Terjauh. Jaraknya 40 tahun setelah Adam membangun Kabah.

    Negeri itu dikatakan Yerusalem (berasal dari lafadz Arabia, “Darussalam”, yang berarti Negeri Damai) karena di Negeri itulah akhirnya Adam menemukan kedamaian kendati ia tidak lagi dapat melihat Tuhan. Hal pertama yang paling membuat Adam terhibur dan dapat melupakan Tuhan adalah kelahiran anak-anaknya dari istrinya, Siti Hawa.

    Tuhan pun mengambil beberapa sikap terhadap Adam. Tuhan berkomitmen tidak akan lagi menyebut-nyebut Kabah di Mekah kepada Adam, demi supaya Adam dapat melupakan kesedihannya. Dapat disimpulkan, seperti apa pun bahagianya Adam di Yerusalem, toh pasti ia akan kembali bersedih jika Tuhan membuat Adam ingat kembali akan Kabah.

    Itulah alasan mengapa kata “Kabah” atau “Mekkah” tidak pernah disebut-sebut dalam Alkitab. Ada dua alasan mengapa Tuhan tidak pernah menyebut-nyebut Kabah dalam Alkitab:

    1. Sebagai reaksi / sikap Tuhan terhadap Adam dan beberapa generasi sesudahnya agar supaya mereka tidak lagi kembali kepada kesedihannya (sentimentilnya) karena telah berpisah dari Tuhan.

    2. Ibrahim, pada masanya, diperintahkan Tuhan untuk merenovasi Kabah (seperti Nabi Sulaiman terhadap Masjidil Aqsa atau Bait Allah). Setelah selesai, Ibrahim meminta kepada Tuhan agar Kabah ini menjadi tempat yang amat aman bagi manusia dalam beribadah. Respon Tuhan adalah dengan cara tidak menyebut-nyebut Kabah dalam Alkitab.

    Sebagai perbandingan, Yerusalem dan Mesjid Aqsa disebut dalam Alkitab (kitab Yahudi dan kitab Kristen) mau pun Alquran. Akibatnya Yerusalem selalu dirundung perang saudara dan menjadi tempat yang paling tidak aman untuk beribadah karena selalu menjadi rebutan antara orang Kristen yahudi dan Islam. Dapat dibayangkan jika Allah menyebut-nyebut Kabah dalam Alkitab, pastilah Kabah dan Mekahnya akan diklaim oleh tiga agama juga yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Akibatnya umat Tuhan yaitu umat Muslim tidak akan dapat beribadah di Mekah dengan aman karena selalu dirundung perang yang tidak akan dapat berakhir sampai kiamat, seperti yang terjadi pada kota Yerusalem.

    Bait Allah di dalam tradisi Yahudi.
    Di dalam tradisi Yahudi, Bait Allah ini disebut dengan dengan The Temple of Solomon (Kuil Sulaiman). Nabi Sulaiman adalah Nabi yang tekaya dan mempunyai kekuasaan yang luas. Pada masa kenabiannya, rumah ibadah yang dibangun Adam ini di dalam keadaan hancur lebur sebagai akibat dari Banjir Besar Nabi Nuh. Karena kekayaan dan kekuasaannya yang besar itu, Sulaiman mengambil inisiatif (juga berdasarkan perintah Allah) untuk merenovasi rumah suci tersebut. Oleh karena itu rumah suci itu disebut dengan Kuil Sulaiman, hanya karena Sulaiman-lah yang pertama kali merenovasinya menjadi lebih permanent.

    Pada masa Nebukhadnezar, kuil ini dihancurkan sehingga hanya tinggal puing saja. Hanya tinggal beberapa dinding saja yang masih utuh. Pada masa sekarang dinding yang masih utuh itu disebut dengan Dinding Ratapan atau The Wailing Wall, merupakan situs suci orang Yahudi.

    Masih di komplek tempat suci itu (di dekat Dinding Ratapan itu), khalifah Umar membangun / merenovasi rumah suci kedua itu sehingga dinamakan dengan Masjidil Aqsa karena memang demikianlah Alquran memberinya nama.

    Bait Allah di dalam tradisi Kristen.
    Kekristenan tidak menyebut-nyebut situs ini secara serius dan fundamental. Hal ini disebabkan adanya keyakinan atau klaim dalam Kekristenan bahwa situs ini tidak lagi signifikan karena rumah Allah di muka Bumi adalah tubuh Jesus sendiri, bukan di dalam bentuk bangunan atau benda-benda visual lainnya. Perjanjian Baru menyebut-nyebut situs ini, sebatas hanya sebagai tempat yang pernah digunakan Jesus di dalam berkhotbah.

    Di dalam Islam, Bait Allah inilah yang disebut dengan Masjidil Aqsa.

  5. Dan ingatlah, ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah dengan mengatakan:”jangan lah kamu mempeserikat kan sesuatu pun dengan Aku dan suci kan rumahKU INI Bagi orang orang yang Thawaf, dan orang orang yang beribadat dan orang orang yang ruku’ dan sujud.
    ( Qs. Al Hajj: 26)

Tinggalkan Balasan